Paragraf Pagi Hari 3
Paragraf Pagi Hari 3
Sequel Akhir
“
pak, ada yang giliran maju bercerita owh….. “ cetus seorang siswa dari bangku
kedua baris belakang.
“
iya pak…. Giliran Wilma sama Esa,pak…….. “ cetus siswa lainnya seolah
membenarkan dan menegaskan
“
oh iya……. “ jawabku pelan, karena memang pelajaran belum aku mulai. Aku
melangkah dari pintu kelas menuju meja guru, meja yang ada di pojok paling
depan sendiri didepan tempat duduk anak – anak sehingga anak – anak bisa
memperhatikan dan diperhatikan dari semua arah dari tempat itu.
“
Assalamualaikum……………….. “ seraya berdiri dari tempat dudukku dan berjalan
ketengah diantara meja – meja siswa yang menghadap kearahku, kulihat wajah lugu
dari tiap siswa yang ada didalam kelas itu.
“
baiklah anak – anak, hari ini ada teman kalian yang akan membawakan cerita yang
telah mereka persiapkan dari rumah! ! ! “
“
Wilma dan Esa……….. Siapa yang mau bercerita duluan? “ ucapku sambil melihat
kearah meja tempat duduk masing – masing kedua anak ini.
“
Wilma dulu ,pak !!!! “ jawab Esa dari tempat duduknya,karena memang tempat
duduk anak ini lebih dekat dengan posisi berdiriku.
“
pak, Ilham kenapa sih ? dari kemarin mukanya nda ceria ! “ Tanya Esa pelan
padaku.
“
hemmm ….. Owh…..“ itu nanti yah, jawabku pelan agar anak – anak yang lain tidak
terbawa pembicaraan kami
“
baiklah, Wilma silahkan bacakan cerita kamu terlebih dahulu …. “ sambil melihat
kearah Wilma seraya menyuruhnya mempercepat membacakan ceritanya didepan teman
– temannya.
Aku
berjalan kebari belakang meja siswa, ditengah aku meminjam sebuah pensil pada
salah satu siswa karena untuk nilai praktek ini memang masih ada perbaikan jadi
sengaja aku tulis dengan pensil terlebih dahulu.
Wilma
melangkahkan kakinya menuju kedepan kelas, berdiri didepan teman – temannya……
Segerakan
aku melangkah kebelakang untuk duduk disalah satu meja kosong yang memang tidak
ditempati anak – anak.
Satu
persatu aku perhatikan bagaimana kedua anak itu bercerita, bagaimana penggunaan
tiap kata mereka untuk mengungkapkan cerita, serta bagaimana cara mereka
membawa teman – temannya masuk kedalam cerita.
“
alangkah lucunya sikap anak – anak ini “ cetusku dalam hati sambil mengguratkan
senyuman dibibirku.
Baik
anak – anak penampilan kedua teman kamu sudah selesai, “ Ilham mau maju
sekarang atau besok ? “ tanyaku spontan seraya menginginkan jawaban singkat
dari anak ini.
“
iya,pak. Maju sekarang saja….. “ jawab Ilham.
“
ya sudah. Silahkan Ilham….. “ menunjuk ke anaknya.
“
Baik anak – anak, Ilham akan langsung bercerita hari ini,saya minta perhatikan
dengan seksama.” Ilham memang salah seorang siswa aktif yang ada dalam ruang
kelas itu, ia sengaja aku pilih untuk maju setelah teman – temannya yang lain
selesai mendapat giliran maju semua. Karena yang pastinya ia memiliki talenta
lebih dari teman – teman satu kelasnya,baik dari segi pemikiran ataupun bakat
minatnya.
“
Assalamualaikum……. “ salam yang diucapkan Ilham didepan teman – temannya yang
memperhatikannya seraya membuka ceritanya.
“
teman teman semua ijinkanlah sebelum
saya menceritakan cerita saya, saya akan membacakan sebuah puisi yang saya buat
terlebih dahulu….. “
“
SAHABAT “ judul puisi yang membuka baris kalimat puisi yang mengandung makna
konotasi mengiringi setelah judul puisi itu di sampaikannya.
“
cerita ini adalah kisah nyata yang telah saya dan teman – teman saya alami
sendiri. Kalian juga pasti sudah tahu cerita tentang kecelakaan yang menimpaku
beberapa saat yang lalu “ucapnya membuka kisah demi kisah yang ia lalui bersama
teman – temanya hingga sampai pada kesimpulan hikmah yang ia bisa peroleh dari
kisah yang telah ia lewati itu.
Tepuk
tangan riuh menggema dari dalam ruang kelas kecil yang berisi 25 orang itu.
Seraya ucapan “ Wassalamualaikum……. “ dari Ilham sendiri menutup kisahnya. Ia
berjalan dengan langkah kecil menuju kursinya di meja paling depan.
“
Alhamdulillah……… kita sudah mendengarkan tiga teman kalian bercerita baik kisah
mereka sendri ataupun kisah dari orang lain untuk kita simak bersama. Dari
ketiga temanmu yang telah menunjukkan kebolehannya, masih perlu dicatat adalah
meskipun kalian sudah memiliki kemampuan tetapi untuk bercerita kalian juga
harus menggunakan diksi ( pilihan kata ) yang selain mudah dimengerti teman
kalian juga bisa membawa teman kalian memasuki cerita yang kalian sampaikan. “
Tak
terasa sudah hampir ….. menit aku gunakan untuk mendengarkan cerita dan
membahas gaya anak – anak bercerita serta juga menyimpulkan dari masing –
masing cerita yang mereka sampaikan. Tinggal sepuluh menit waktuku didalam
kelas itu.
“
Kita masih memiliki waktu sepuluh menit anak – anak, lanjutkan pelajaran,yah? “
“
cerita lagi saja ,pak ?! ! “ pertanyaan sekaligus permintaan anak – anak agar
aku tetap melanjutkan siswa waktuku untuk bercerita lagi.
“
baiklah, begini kalau saya bercerita saya tidak mungkin bisa anak – anak .
karena saya masih terbawa ceritanya Ilham yang tadi, jujur ketika Ilham tadi
bercerita saya sendiri merasakan malah hampir saja menangis. Namun, karena ada
salah satu teman kamu yang berceletuk “ bujang , nangis ….. ! ! ! ! ” ucap Ibnu
salah satu murid yang duduk dibangku samping aku duduk saat aku menilai
penampilan siswa. Akhirnya saya harus bisa menahan perasaan saya, agar saya
tidak terbawa kedalam cerita Ilham. “
“
iya wis,Pak…… ceritanya pa edi saja ….. “ pinta semua anak yang ada diruang itu
“
bukannya saya tidak mau bercerita, begini saya ini adalah orang yang sangat
sekali jarang menceritakan kisah hidup saya kepada orang lain. Karena saya
paling takut ketika ada orang lain yang tahu kisah saya, justru mereka
akanmeninggalkan saya. Dan akhirnya saya hanya tinggal dalam kesendirian saja
tanpa ada orang yang menemani berada
disamping saya. Perlahan – lahan satu persatu teman saya, orang tua saya, kaka
adik saya akan hilang dari samping kehidupan saya hingga akhirnya saya akan
berjalan tanpa harapan dan tujuan pasti
didunia ini “
“
tapi,pak…. Itu kan masa lalu….. “ jawab Ilham seraya mengharapkan saya tetap
bercerita.
“
justru itu,masa lalu adalah cap yang akan menempel selamanya. Kita tidak akan
pernah bisa merubah cap itu untuk seumur hidup kita. Mekipun kita dapat merubah
diri kita,tetapi tidak terhadap masa lalu kita. Selamanya masa lalu akan ada
dan menempel bahkan sampai kita meninggal nanti. “ jawabku menjelaskan pada
semua siswa.
“
benar juga…… “ jawab Ilham singkat.
Kulihat
sebagian dari siswiku sudah meneteskan air mata ketika aku mulai menjelaskan
bagai mana ketika seseorang sudah diberi label tidak bai oleh orang kemudian ia
akan ditinggalkan satu persatu oleh tiap orang yang dulu ada
disampingnya,hingga kemudian ia akan tinggal sendirian ditengah dunia ini.
Berjalan sendiri tanpa tujuan pasti,tak
ada satu orangpun yang mau mendampingi.
“
huhft………….. “ suaraku pelan menghembuskan napas panjang dari mulutku, seraya
menehilangkan beban hati yang terasa berat didalamnya.
“
tettttttt………….. tetttttttttttttttttttt “ bunyi bel dua kali menandakan
pergantian jam tengah berlangsung.
Aku
berjalan menuju meja tempat aku menaruh buku ku, segera ku isi jurnal guru yang
memang harus diisi guru untuk data sekolah. Segerakan kubangkit dari tempat
duduk ku setelah aku membubuhkan tanda tangan dalam jurnal itu.
“
baik, anak – anak….. pertemuan kita sudah selesai hari ini….. jangan lupa LKS
yang kalian punya silahkan dikerjakan dirumah,nanti setelah ada kesempatan kita
bahas bersama. “ “ wabilahitaufiq walhidayah……… “ bersama tugas yang aku
berikan untuk siswa menutup pertemuan hari itu.

Komentar
Posting Komentar